Bandara Rambang: Jejak Sejarah Penerbangan Internasional di Lombok yang Terlupakan
Telusuri kisah Bandara Rambang, bandara pertama di Lombok yang menjadi titik transit penting MacRobertson Air Race dan maskapai global era kolonial. Pelajari perannya, pengabaiannya pasca-kemerdekaan, dan alih fungsi lahan menjadi tambak udang.
Lombok Timur - Pada tahun 1934, di Desa Surabaya, Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur, sebuah gerbang penting dalam sejarah penerbangan dunia mulai beroperasi: Bandara Rambang. Dibangun pada era kolonial Belanda, bandara ini bukan sekadar landasan biasa, melainkan titik strategis yang menghubungkan Eropa dan Australia di awal abad ke-20.
Bandara Rambang menjadi saksi bisu The MacRobertson Air Race tahun 1934, sebuah reli udara bergengsi dari London ke Melbourne. Ia adalah salah satu dari 22 titik transit penting yang menyediakan bahan bakar dan fasilitas perbaikan bagi pesawat-pesawat pionir.
Penerbang legendaris seperti Jean Batten bahkan tercatat mendarat di sini dalam penerbangan solonya yang bersejarah dari Inggris ke Australia. Maskapai besar seperti Imperial Airways dan KLM juga menjadikannya persinggahan vital dalam rute jarak jauh mereka.
Namun, kejayaan Bandara Rambang tak berlangsung lama. Pada tahun 1942, saat pendudukan Jepang, bandara ini diambil alih untuk kepentingan militer.
Setelah Indonesia merdeka, di tengah gejolak politik tahun 1950-an, Bandara Rambang secara bertahap ditinggalkan dan tidak lagi beroperasi.
Pemerintah Indonesia kemudian membangun bandara baru yang lebih strategis di Ampenan, yang kini dikenal sebagai Bandara Selaparang, dan kemudian digantikan oleh Bandara Internasional Lombok (BIL) yang lebih modern.
Kini, lokasi bekas Bandara Rambang telah berubah fungsi menjadi area tambak udang. Meskipun beberapa sisa struktur seperti pondasi dan pos TNI AU masih dapat ditemukan, nyaris tidak ada penanda yang jelas tentang sejarahnya yang gemilang.
Minimnya upaya pelestarian dan kesadaran masyarakat telah menyebabkan situs bersejarah ini terlupakan.
Alih fungsi lahan ini bahkan memicu protes dari berbagai pihak yang khawatir akan hilangnya warisan sejarah penting Pulau Lombok.
Bandara Rambang adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah penerbangan Indonesia dan dunia, sebuah pengingat akan konektivitas global awal dan tantangan para pionir penerbangan.
Pelestarian situs ini bukan hanya tentang menjaga fisik, tetapi juga tentang menjaga narasi berharga bagi generasi mendatang.
Sumber : LombokPost dan Lombokini.com



