Tantangan Sport Tourism Indonesia: Kalah Saing Singapura?

Indonesia masih tertinggal di sport tourism karena minim regulasi dan intervensi pemerintah. Belajar dari Mandalika, yuk bahas cara atasi tantangan ini agar tak kalah saing dengan negara tetangga seperti Singapura.

Desember 8, 2025 - 06:24
 0  3
Tantangan Sport Tourism Indonesia: Kalah Saing Singapura?
Mendorong perlunya kebijakan pemerintah untuk sport tourism Indonesia yang lebih kompetitif.

Lomboklite.com - Jakarta. Menyoal sport tourism Indonesia, kita sering dengar potensinya besar banget, apalagi dengan destinasi keren seperti Mandalika di Lombok. Tapi, realitanya? Masih ada tantangan sport tourism serius yang bikin kita ketinggalan jauh dari tetangga seperti Singapura.

Bayangin aja, event olahraga internasional datang, tapi malah dikecewain harga kamar hotel yang melambung tak terkendali. Ini bukan cuma cerita lama, tapi isu panas yang dibahas di ajang besar baru-baru ini.

Minim Regulasi, Event Terancam Gagal Lanjut

Dalam gelaran Indonesia Sports Summit 2025 yang baru saja digelar di Indonesia Arena GBK, Jakarta, para pakar angkat bicara soal ini. Dony Oskaria, COO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), nyeletuk bahwa ketiadaan aturan tegas dari pemerintah jadi penghalang utama. "Bayangin kalau event besar datang ke Mandalika, tapi harga akomodasi naik seenaknya. Ini bikin peserta kabur dan event susah bertahan jangka panjang," ujarnya santai tapi tegas di forum itu pada Minggu lalu (7 Desember 2025).

Contohnya Mandalika? Destinasi super potensial di Lombok ini sering jadi sorotan karena MotoGP dan event balap lainnya. Tapi tanpa batasan harga—misalnya kenaikan maksimal 2-2,5 kali lipat seperti di negara maju—wisatawan lokal dan asing bisa rugi besar. "Nggak boleh dong, mumpung rame langsung naikin harga gila-gilaan. Ini harus diselesaikan biar sport tourism Indonesia bisa maju," tambah Dony, yang menekankan intervensi pemerintah sebagai kunci sukses.

Belajar dari Negara Lain: Biaya Lisensi dan Dukungan Negara

Di luar sana, negara-negara seperti Singapura atau Australia punya strategi matang. Pemerintah mereka bahkan sanggup bayar biaya lisensi event besar, karena manfaatnya balik ke negara lewat peningkatan ekonomi dan citra. "Lisensi fee itu mahal, tapi negara yang untung besar. Kita harus ikut pola ini biar nggak kalah saing," jelas Dony. Tanpa itu, alih-alih inflow wisatawan, malah outflow ke tetangga yang lebih ramah event.

Update terbaru dari summit ini juga bawa angin segar. Menteri Pariwisata bilang, olahraga bisa jadi magnet global yang sumbang 10% belanja wisata dunia. Acara seperti Borobudur Marathon 2025 atau Malang Century Journey baru-baru ini bukti kalau regulasi pariwisata olahraga yang baik bisa picu ekonomi lokal. Tapi, tantangannya tetap: bagaimana bikin kebijakan nasional yang masukin sport tourism ke agenda pertumbuhan ekonomi?

Langkah ke Depan untuk Mandalika dan Lombok

Buat Lombok, ini peluang emas. Mandalika bisa jadi pusat event Mandalika kalau pemerintah tegas atur harga dan dukung infrastruktur. Bayangin, event olahraga rutin tanpa drama harga, wisatawan betah, ekonomi lokal naik. "Kita nggak boleh kalah sama Singapura. Harus agresif, tapi bijak," pesan Dony. Pemerintah diminta masukin ini ke rencana nasional, biar dampaknya jangka panjang.

Intinya, tantangan sport tourism ini bukan akhir, tapi panggilan buat berubah. Dengan regulasi yang pas, Indonesia—termasuk Lombok—bisa unggul di peta global. Stay tuned ya, kita pantau perkembangannya!

Sumber:
  • Bos Danantara Buka Kartu! Ini yang Bikin Sport Tourism RI Susah Maju - CNBC Indonesia CNBC Indonesia (7 Desember 2025)
  • Apresiasi ISS 2025, Menpar: Jadikan Sport Tourism Kekuatan Global Indonesia - Republika.co.id Republika (8 Desember 2025)
  • Indonesia Sports Summit 2025 Resmi Dibuka, Jadi Ajang Kolaborasi Ekosistem Olahraga Nasional - Warta Ekonomi Warta Ekonomi (8 Desember 2025)

samsuhid Penulis lepas, web manager, pengusaha, kadang koresponden. Saya cuma suka berbagi hal-hal bermanfaat di dunia digital—nggak lebih, nggak kurang.