Jepang Krisis Kelahiran, Ekonomi dan Masa Depan Terancam

Angka kelahiran Jepang turun ke rekor terendah sepanjang sejarah. Krisis demografi ini mengancam ekonomi, pertahanan, dan masa depan Negeri Sakura.

Juni 6, 2025 - 13:39
Juni 6, 2025 - 14:09
 0  3
Jepang Krisis Kelahiran, Ekonomi dan Masa Depan Terancam
Angka kelahiran di Jepang turun drastis ke level terendah sepanjang sejarah modern, mencatat hanya 686.061 bayi pada tahun 2024 (Foto: istimewa)
Jepang Krisis Kelahiran, Ekonomi dan Masa Depan Terancam

LombokLite.com – Jepang kembali dihadapkan pada realitas pahit yang kian mengkhawatirkan. Data resmi pemerintah yang dirilis Rabu (4/6/2025) menunjukkan bahwa jumlah kelahiran bayi di Jepang menurun drastis, mencapai titik terendah sepanjang sejarah modern. 

Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Jepang, hanya 686.061 bayi yang lahir sepanjang tahun 2024.

Angka ini turun 5,7% dari tahun sebelumnya, sekaligus menandai pertama kalinya angka kelahiran tahunan berada di bawah 700.000 sejak pencatatan dimulai pada 1899.

“Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah darurat senyap yang bisa berdampak pada keamanan nasional dan keberlanjutan ekonomi Jepang,” ujar Perdana Menteri Shigeru Ishiba dalam konferensi persnya di Tokyo.

Krisis yang Tak Lagi Bisa Diabaikan

Fenomena ini memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung selama 16 tahun berturut-turut. Bandingkan dengan masa baby boom tahun 1949, ketika kelahiran mencapai 2,7 juta bayi, angka saat ini hanya sekitar seperempatnya saja.

Lebih dari sekadar penurunan jumlah penduduk, kekhawatiran besar muncul karena Jepang sedang dalam proses meningkatkan belanja pertahanan dan memerlukan sumber daya manusia yang cukup untuk menopang produktivitas jangka panjang.

Fokus pada Keluarga, Tapi Masih Kurang Sentuh Akar Masalah

Pemerintah Jepang telah menggulirkan beberapa kebijakan, mulai dari mendorong lingkungan kerja fleksibel, hingga subsidi untuk keluarga.

Namun para pakar menilai, fokus kebijakan terlalu sempit: hanya menyentuh pasangan menikah, sementara generasi muda

shidayat Hobi menulis